a
HomeTelusurSejarah Pemogokan Buruh

Sejarah Pemogokan Buruh

Sejarah Pemogokan Buruh

Dalam dunia perburuhan, ada banyak istilah yang mungkin asing bagi telinga awam. Salah satunya adalah mogok kerja.

Ada beberapa definisi tentang mogok kerja. Kamus besar bahasa Indonesia mencatat, mogok kerja dapat didefinisikan sebagai: “Mogok dengan menghentikan kegiatan, pekerjaan karena adanya tuntutan yang tidak dipenuhi oleh pihak perusahaan atau tempat bekerja.”

Selain KBBI, pasal 1 angka 23 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, mendefinisikan mogok sebagai: “Mogok kerja adalah tindakan pekerja yang direncanakan dan dilaksanakan secara bersama-sama dan/atau oleh serikat pekerja untuk menghentikan atau memperlambat pekerjaan.”

Dari dua definisi diatas, mogok kerja dapat dimaknai sebagai sebuah tindakan protes yang direncanakan (terorganisir) dan dilakukan secara bersama sama (kolektif) dengan menghentikan produksi.
Sebelum membahas lebih jauh tentang mogok kerja, ada baiknya merunut sejarah tentang bagaimana awal mula lahirnya mogok kerja. Jawabannya, kembali ke masa dua ratus lima puluh tahun silam di inggris di masa awal revolusi industri.

Pada masa 1700-an, masa awal revolusi industri, seluruh Inggris mengalami demam industri. Banyak dari tuan tanah, para pedagang dan para bangsawan beralih menjadi industrialis. Dengan semangat “mencari keuntungan sebesar besarnya” para spekulan industrialis ini merubah tanah-tanah produktifnya menjadi peternakan-peternakan domba untuk kebutuhan wol bagi industri tekstil yang sedang naik daun pada saat itu. banyak petani yang kehilangan perkerjaaannya, dan harus beralih profesi. Bersama orang miskin lainnya, para petani ini akhirnya harus masuk ke dunia yang baru, yaitu dunia industri dan menjadi buruh yang siap diupah murah.

Kondisi ekonomi yang buruk dan diperparah oleh perang tujuh tahun (Seven Years War) antara sekutu Inggris melawan sekutu Prancis di negara-negara jajahan tahun 1756-1763, tambah menyulitkan perekonomian rakyat inggris. Pemotongan upah, jam kerja yang panjang, kenaikan pajak dan kenaikan harga pangan menjadi masalah keseharian mereka.

Rangkaian fenomena krisis yang terjadi bukanlah hal yang baru di Inggris. Efek ini diperoleh ketika George III menjadi aristokrasi dan semakin reaksioner, pembaharuan kepemilikan tuan tanah, dan para pedagang yang menguasai Parlemen, yang tentu saja mengabaikan kebutuhan mayoritas rakyat secara luas.

Pertumbuhan yang pesat di London pada abad 18, menuntut persediaan batu bara dalam jumlah yang besar. Pasokan didatangkan dari lubang tambang batu bara bagian Timur Laut Inggris melalui kapal tongkang. Seluruh batu bara tersebut kemudian diturunkan oleh para buruh pengangkut di stasiun kereta Wapping and Shadwell, bagian tepi utara sungai Thames. Namun bekerja sebagai buruh pengangkut bukanlah pekerjaan yang mudah, malah sebaliknya. Ia menjadi sebuah pekerjaan yang tidak menyenangkan karena terkontrol melalui para mandor pabrik (Undertakers), makelar yang mempekerjakan para buruh pengangkut dan membayar upah mereka berbasis target kerja. Sebagian mandor pabrik juga memiliki penginapan dan bar lokal, yang transaksi pembayarannya dapat dilakukan dalam bentuk pertukaran barang seperti, minuman dan makanan. Selain itu mereka juga menerima standar ukur pembayaran berupa karung atau tong yang berisi batu bara.

Mengangkut batu bara merupakan pekerjaan yang menguras energi. Ditambah lagi dengan kondisi air minum yang tidak layak, sehingga para buruh batu bara akhirnya harus meminum bir sebagai penggantinya. Mengingat penginapan dan bar merupakan satu-satunya tempat para buruh makan dan minum di area pertambangan, para mandor ini melakukan pengendalian cukup besar atas kehidupan seluruh buruh pengangkut batu bara.

Kebanyakan buruh pengangkut batu bara berasal dari Irlandia. Sebagian dari mereka telah berimigrasi pasca peristiwa gelombang pertama konflik tanah di belahan Selatan Irlandia pada tahun 1762-1763. Menurut beberapa ahli sejarah, ada kemungkinan taktik dan strategi membangun tahapan tindakan kolektif perlawanan serikat buruh pengangkut batu bara di Inggris itu, meniru cara cara agitasi gerakan petani Irlandia Whiteboys. Whiteboys merupakan sebuah organisasi petani yang menggunakan taktik konfrontasi dan aksi-aksi langsung untuk mempertahankan kepentingan lahan tenurial petani. Beberapa imigran Irlandia tampaknya secara sederhana meniru taktik Whiteboys. Buruh pengangkut ini berkerjasama di pelabuhan dan membangun belasan kelompok sel-sel kecil. Pada saat itulah, corak organisasi kolektif pun mulai terbentuk.

Tahun 1758, para buruh pengangkut batu bara melakukan protes dan berhasil mengajukan petisi ke Parlemen guna menghapus monopoli para mandor atas alat kerja berupa sekop untuk kebutuhan pengangkutan buruh batu bara. Sebelumnya, para mandor ini mengendalikan penyewaan alat kerja kepada para buruh dengan harga yang sangat tinggi. Di sisi lain, Undang-Undang Pengupahan yang diperkenalkan pada tahun 1758 dengan cepat diabaikan begitu saja oleh Anggota Dewan Kota. Anggota Dewan Kota setempat yang bertanggung jawab atas implementasi Undang-Undang saat itu adalah William Beckford, seorang pemilik pabrik gula skala besar dengan sistem perbudakan di Jamaica. Ia mewakili wajah dari kapitalisme yang baru yang lahir saat itu.

Pada Desember 1762 di bagian Timur Laut Inggris, tepat di belahan kota Liverpool, para buruh pelayaran melakukan mogok kerja untuk menuntut peningkatan upah. Selanjutnya pada tahun 1765, para buruh tambang batu bara belahan utara Inggris terlibat aksi pemogokan dalam waktu yang panjang. Pertumbuhan pabrikasi ringan dan perdagangan di bagian Timur London memicu konflik seperti itu juga. Huru-hara yang terjadi di kota Spitalfield pada tahun 1765 disebabkan oleh menurunnya produksi industri tenun sutra, yang memicu para buruh tenun mengorganisir diri guna menuntut upah layak yang sesuai dengan kebutuhan hidup. Mereka mempraktekan model serikat buruh yang ilegal dan tidak resmi. Tahun 1765, mereka memprotes impor sutra yang didatangkan dari Perancis. Mereka pun terus melakukan perlawanan sampai dengan tahun 1767.

Pasca peristiwa Seven Years War, jumlah buruh pelayaran mengalami pengurangan dan upahnya bermacam-macam tergantung atas kebijakan pemilik kapal. Pada Mei 1768, para pelayar melakukan survei upah lintas kapal dan mengambil catatan perbandingan upah dari setiap kapal. Para buruh pelayaran terinspirasi oleh keberhasilan buruh pelayaran di kota Sunderland, yang memenangkan tuntutan peningkatan upah melalui gelombang aksi mogok dan demontrasi dijalanan. Mereka berparade sambil membawa drum dan bendera, melintasi para pedagang roti dan pedagang daging, yang barang dagangannya tak lagi mampu dibeli oleh para buruh pelayaran. Di saat itulah, contoh gerakan agitasi kolektif telah dibangun.

April 1768, para buruh pelayaran di kota Sunderland menghentikan kapal yang hendak meninggalkan pelabuhan dengan cara menurunkan layar kapal mereka. Alhasil, penguasa dan pemilik kapal menyepakati tuntutan kenaikan upah yang dilayangkan oleh para buruh pelayaran. Gelombang protes yang dilakukan oleh para buruh pelayaran lainnya, turut berlanjut di kota Thames pada Mei di tahun yang sama.

Terinspirasi oleh aksi gerakan buruh pelayaran di Sunderland, para buruh pengangkut batu bara di London menghentikan serta menurunkan layar kapal-kapal dan melakukan tindakan yang mereka sebut dengan “strike” atau mogok sebelum tuntutan mereka dipenuhi. Pada bulan selanjutnya, para buruh pengangkut batu bara memalang kapal-kapalnya dan bahkan juga, para buruh memblokade kuda kuda pembawa batu bara serta mengalihkan jalurnya, yang bermaksud untuk mengganggu rantai pasokan industri. Sejak saat itulah istilah “strike” atau mogok dikenal dan masuk kedalam kamus perjuangan buruh sedunia.

Pihak pengusaha dan para mandor pun tidak tinggal diam. Para pengusaha dan para mandor merekrut dan membawa buruh dari daerah lain untuk membelah pemogokan buruh pengangkut batu bara tersebut. Selain itu mereka menyewa tukang pukul bayaran, serta bekerja sama dengan polisi dan tentara untuk membubarkan pemogokan buruh pengangkut batu bara. Konfrontasi terbuka pun tidak terhindarkan, seorang buruh angkut dan buruh pengrajin sepatu tewas. Selanjutnya tujuh buruh pengangkut batu bara ditangkap, dihukum dan digantung di muka umum. Bersamaan dengan itu pula, protes para buruh pengangkut batu bara menyebar hingga merangkul para buruh pelayaran di wilayah London.

Pada 11 Mei 1768, para buruh pelayaran bersama buruh angkut batu bara, menggalang aksi massa bersama sebanyak empat belas ribu orang untuk bergerak menuju Westminster. Para buruh pelayaran lalu mengajukan petisi kepada Parlemen dan Walikota yang berisi tuntutan kenaikan upah. Para buruh tidak akan berangkat kerja sampai tuntutan mereka dipenuhi. Selanjutnya, memasuki minggu kedua pada bulan Mei, beberapa sekoci dengan muatan batu bara dan sebagian pelayar memasuki Parlemen, sebagai ungkapan protes. Mereka terus menggalang dukungan para buruh lainnya di pelabuhan dan disepanjang jalan agar ikut bergabung. mereka terus mengorganisir buruh lebih banyak lagi sampai tiba di Stepney Fields—sebuah lahan terbuka di bagian utara Wapping—dan bergabung dalam jumlah “sangat besar” yang terdiri dari para buruh pengangkut batu bara dan buruh pelayaran. Memasuki minggu selanjutnya, seluruh perdagangan di Thames—sebuah jalur tranportasi laut pada kekaisaran yang mengendalikan hampir sepertiga jalur pedagang—telah terhenti. Para kelas buruh lainnya, seperti penyewa kapal dan kusir turut ikut bergabung dalam pemogokan.

Gelombang protes dan pemogokan terus menyebar di seluruh London dan eskalasi konflik pun meningkat. Buruh-buruh pengganti serta tukang pukul bayaran dan dikawal oleh polisi dan tentara mulai menurunkan kapal, dan meletuslah bentrokan dan kerusuhan yang mengakibatkan seorang buruh pelayaran meninggal. Sembilan buruh pengangkut batu bara terkena tuduhan pembunuhan atas matinya seorang buruh pelayaran itu. Dua orang di antaranya digantung di Tyburn, sebuah situs eksekusi lawas. Enam orang lainnya digantung di daerah Sun Tavern Fields –dekat dengan tempat pemukiman dan tempat kerja para buruh pengangkut batu bara. eksekusi itu dihadiri yang dihadiri sebanyak lima ribu orang, dengan pengerahan ratusan aparat kepolisian dan bala tentara. Barisan tentara ini kemudian ditempatkan di area tersebut hingga September.

Dalam menjawab protes dan pemogokan para buruh, kelas penguasa melancarkan hukuman gantung agar semua mata dapat menyaksikannya. Penganiayaan secara legal kepada mereka yang disebut sebagai pengacau, dan menggunakan militer sebagai alat merepresi guna mengubah rakyat miskin London menjadi kelas pekerja industri yang taat. Memang, tiang gantung menggangu keteguhan hati para buruh pengangkut batu bara pada saat itu, akan tetapi mereka menjadi suluh bagi gelombang perlawanan terhadap kapitalisme dan kerajaan Inggris yang tak pernah bisa dilupakan. Dan hal ini lah yang menjadi bahan baku perjuangan masa depan.

Tidak sampai 120 tahun kemudian, peristiwa pemogokan buruh pelabuhan di Inggris (London Dock Strike 1889) memberikan hasil yang mendalam. Dipimpin oleh organisator Ben Tillet dan John Burns, menjadi titik balik dari sejarah serikat buruh di Britania. Mereka mengerahkan kolektif kelas buruh dalam sebuah aksi pemogokan melalui sebuah serikat baru yang modern dan agitasi dalam bentuk tujuan yang jelas dan lebih terukur.

Keberhasilan peristiwa London Dock Strike memberi kepercayaan baru bagi para kelas buruh, untuk mengorganisir diri mereka dan menentukan tindakan kolektif lintas negara. Dengan cara itulah, tahun 1889 pemogokan memainkan peran penting dari kemunculan gerakan perburuhan di Inggris. Tentunya, para buruh pengangkut batu bara dan pelayar pada tahun 1768, juga merupakan para perintis yang memberikan sebuah warisan panjang dalam perjuangan buruh dimasa depan. Pada akhirnya, pemogokan menjadi salah satu kerja politik serikat buruh dalam berhadapan dengan para pengusaha atau kapitalis. (Siti Hartati)

Bagikan