a
HomeTelusurBerburu Poin dan Bonus

Berburu Poin dan Bonus

Berburu Poin dan Bonus

Trimurti.id, Bandung—Setahun setelah mewawancarai Angga, Trimurti.id kembali menemui dua pengemudi ojek online, Lukman dan Tama. Dari keduanya, sekali lagi Trimurti.id mendengarkan keluh-kesah tentang jam kerja yang panjang.

Lihat saja pengalaman Lukman. Dalam sehari Lukman mampu melahap tak kurang dari 17 kali order pengantaran. Tapi, syaratnya tidak ringan. Pertama, dia harus menghidupkan aplikasi sejak dini hari. Artinya, sejak dini hari pula dia bekerja. Kemudian, dia harus rela bekerja dari pagi hingga malam, dari jam 05.00 sampai jam 21.00.

Akhir-akhir ini, menurut Lukman, order lebih sukar didapat karena persaingan yang semakin ketat. Pada dini hari ketika diwawancarai, dia masih terlihat nongkrong di sebuah pangkalan ojek.

“[masih mangkal] bukan karena militan, saking sepinya [order]. Seperti sekarang aja, standby sambil nonton bola,” katanya, kepada reporter Trimurti.id, Rabu 13 Maret 2019.  Kebetulan saat itu sebuah stasiun swasta sedang menyiarkan salah satu pertandingan sepakbola Liga Champion.

Agar mendapatkan penghasilan lebih besar, Lukman harus mengikuti berbagai ketentuan mengenai poin dan bonus. Setiap melakukan pengantaran (penumpang, makanan, barang), pengemudi akan mendapatkan sejumlah poin. Kemudian, poin yang terkumpul dalam sehari dapat ditukarkan dengan bonus uang. Aturannya terdengar sederhana, tapi ternyata tidak demikian. Dari waktu ke waktu skema poin dan bonus bagi pengemudi Go-Jek rupanya terus diperbaharui.

Menurut skema yang lebih baru, yang berlaku sejak 15 September 2018, poin dan bonus pada akhir minggu (Sabtu-Minggu) ternyata berbeda dengan hari biasa (Senin-Jumat). Lain kota ternyata lain pula poin dan bonusnya. Skema yang berlaku di kota Bandung, misalnya, mengikuti tabel di tautan berikut ini.

Masih ada kerumitan yang lain. Penghitungan poin dan bonus bergantung pula pada rata-rata capaian poin pengemudi dalam dua minggu terakhir. Mengikuti tabel penghitungan di bawah ini, pengemudi yang kinerja mingguannya rendah (Grup A) akan mendapat tambahan bonus Rp. 35 Ribu jika mampu mengumpulkan 17 poin. Kalau kinerja mingguannya meningkat, dia akan masuk Grup B, maka poin dan bonus akan dihitung dengan cara berbeda. Dengan bonus lebih besar, namun juga dengan target poin yang lebih tinggi pula.

Tabel penghitungan poin dan bonus.

Grup Poin dan Bonus
A 6 poin = Rp7.000
10 poin = +Rp4.000
17 poin = +Rp24.000
Total 17 poin = Rp35.000
B 10 poin = Rp11.000
13 poin = +Rp6.000
21 poin = +Rp43.000
Total 21 poin = Rp60.00
C 13 poin = Rp17.000
17 poin = +Rp18.000
25 poin = +Rp55.000
Total 25 poin = Rp90.000

 

Catatan: Tabel di atas diambil dari link berikut (diakses pada 20 April 2019), dan hanya berlaku untuk hari Sabtu-Minggu.

Pengemudi ojek online sukar mengandalkan pendapatan semata-mata dari upah pengantaran, yang memang ditetapkan terlalu rendah. Mempelajari skema poin dan bonus dari Go-Jek, sukar untuk mengabaikan kesimpulan bahwa semua pengemudi memang diminta untuk mengejar target (poin) dan mempertahankan kinerja yang tinggi, agar beroleh bonus uang dan dapat menambah penghasilan. Dan, agar target tercapai, mereka harus bekerja hingga belasan jam per hari.

Cerita dari Tama, pengemudi Grab, tidak jauh berbeda. Supaya bisa mengantungi cukup uang, Tama bekerja dua belas jam, dari jam 06.00 sampai jam 18.00. “Sesekali pernah sampai 18 jam hanya untuk mengejar bonus poin.”

Di luar soal jam kerja, Tama mengeluhkan banyaknya uang yang harus dikeluarkan pengemudi Grab. Sewaktu mendaftarkan akun saja, dia sudah perlu menguras kocek hingga Rp. 150.000,- guna mengisi saldo kredit. Kemudian, dia diharuskan membayarkan uang Rp. 280.000,- untuk membeli jaket dan helm, yang dicicil dari upah pengantaran. Belum lagi, ada potongan 20% dalam setiap satu orderan.

“Potongan-potongan ini lah yang membuat saya geram. Dari 115 trip yang sudah saya jalani, dan diantaranya dengan beberapa kali sampai 18 jam kerja, saya hanya bisa menyisihkan tabungan Rp. 150.000 dan itu pun akan terpakai jika saya tidak bekerja besok harinya,” ujar Tama.

Ditanyai tentang pendapatan hariannya, Tama menjelaskan bahwa pendapatan kotornya, dari 18 jam bekerja, hanya mencapai Rp. 300.000,-.  Sekitar sepertiganya harus disisihkan untuk bensin (Rp. 40.000,-), dua kali makan (Rp. 30.000,-), dan rokok (Rp. 20.000,-). Sisanya, Rp. 200.000.

“Sehari bisa nyimpen Rp. 100.000. Namun, karena saya tidak bisa setiap hari kerja 18 jam. Paling dalam seminggu, saya nyampe tutup poin dan maksimal hanya bisa narik tiga hari. Namun, karena seringnya siang dan sore, pendapatan saya sehari hanya sampai Rp. 150.000. Itu juga kotor. Bersihnya paling 60 Ribu. Ini tuh cuma dapet sepuluh orderan, Grab-Bike sama Grab-Ekspress.”

Tidak setiap hari Tama bekerja sebagai pengemudi ojek online sebab, “ada urusan kuliah dan aktivitas lainnya.” Lagi pula, tubuhnya perlu istirahat. Tidak mungkin bagi Tama, dan bagi siapapun, untuk ngojek seminggu penuh dan 18 jam per hari. Ditemui 2 April 2019, Tama mengatakan dia besok berencana untuk istirahat.

Lukman dan Tama menjadi pengemudi ojek online untuk menambal berbagai kebutuhan kuliah, membiayai skripsi, dan membeli buku. Dulu mereka berpikir bahwa, dengan menjadi pengemudi ojek online, mereka dapat kapan saja, tanpa aturan ketat dan target tertentu. Mereka merasa kadung terjebak dalam suatu sistem dengan jam kerja yang sangat panjang dan rentan mengalami kecelakaan.

“Melalui narasi perusahaan, yang menyebut driver sebagai mitra, perusahaan berhasil mengaburkan hubungan majikan dan buruh antara perusahaan dan driver. Hubungan ini makin lentur dan tidak jelas. Akhirnya, driver yang dirugikan,” pungkas Tama.

Reporter: Syawahidul Haq

Bagikan