a
HomeKabar PerlawananPerempuan Buruh Pabrik Elektronik: Diracun di Tempat Kerja

Perempuan Buruh Pabrik Elektronik: Diracun di Tempat Kerja

Perempuan Buruh Pabrik Elektronik: Diracun di Tempat Kerja

Trimurti.id—Menjelang peringatan International Women’s Day (IWD) 2020, redaksi Trimurti.id menaikkan dua tulisan tentang buruh perempuan yang bekerja di industri elektronik di Korea Selatan. Yang pertama berupa esai foto dan yang kedua adalah tulisan panjang.

Kedua tulisan adalah terjemahan-saduran dari laporan investigasi Cam Simpson dkk yang pernah dimuat di Bloomberg Businessweek. Meskipun ditulis dua tahun yang lalu, kami percaya tulisan investigasi ini masih relevan dengan kondisi perburuhan di Indonesia, terutama soal kesehatan reproduksi buruh perempuan di industri elektronik.

Selamat membaca dan meramaikan peringatan IWD 2020.


Para Perempuan Buruh Pabrik Samsung

Park Min-sook, bekerja selama tujuh tahun di sebuah pabrik semikonduktor Samsung, kemudian mandul dan keguguran, sebelum akhirnya didiagnosa mengidap kanker payudara.

“Kami tidak pernah diajari soal keselamatan kerja. Hanya diberitahu bahwa cip yang kami produksi sangatlah penting.

“Teman saya yang bekerja di Deret 1 susah hamil selama tujuh tahun. Ada juga teman di Deret 2 yang mandul selama sepuluh tahun. Saya tidak bisa hamil selama empat tahun, dan pernah keguguran sekali. Sungguh aneh, mengapa terjadi? Mengapa orang-orang ini punya masalah tiroid dan kanker? Bagi saya ini bukan kebetulan.

“Anda ingin melihat keping wafer mikrocip? Orang-orang yang datang mewawancarai saya biasanya suka melihatnya. Barangnya memang kecil dan lucu, jadi saya pernah diam-diam mengambil salah satu wafer yang reject. Saat itu masih sekitar tahun 1990-an. Sekarang, saya sama sekali tak ingin menyentuhnya. Ada orang pernah meminta untuk mengambil foto saya sambil memegang wafer, dan saya tidak ingin lagi.”

–Park Min-sook, 41 tahun.

Kim Mi-yean di rumahnya di Suwon, kota yang dijuluki Samsung City, karena banyaknya jumlah pabrik Samsung di kota tersebut. Kim bekerja di salah satunya, selama 15 tahun. Ia kemudian mandul dan mengidap kanker rahim.

“Mereka bilang saya mandul, tapi mereka tidak tahu sebabnya.”

–Kim Mi-yeon, 38 tahun.

Han Hye-kyung bekerja di sebuah pabrik LCD Samsung hingga hampir enam tahun. Ia punya tumor otak. Kemampuan berbicara, penglihatan, dan gerakan tubuhnya terganggu karena sakit.

“Saya sangat membenci Samsung. Lebih dan lebih lagi. Saya benci Samsung.”

Han Hye-kyung punya kesulitan berbicara. Kata-kata di atas diucapkan sendiri oleh Han. Kutipan di bawah diucapkan ibunya, Kim Shinyeo, yang mewakilinya.

“Hye-kyung mulai bekerja pada 1995 dan berhenti pada 2001. Pada September 2005, ia didiagnosa tumor otak. Han berhenti bekerja di Samsung karena menstruasinya sama sekali berhenti, dan ia mulai mengikuti perawatan ke dokter kebidanan. Awalnya, kami pikir ini disebabkan oleh listrik statis, karena Han kerjanya membuat papan-papan sirkuit hijau yang dimasukkan ke produk-produk elektronik. Jadi kami pikir, mungkin Han memang harus berhenti kerja. Namun, setelah ia berhenti kerja, menstruasinya tetap tidak teratur. Ia mendapat tumor otak tersebut ketika ia tengah menjalani perawatan untuk mengatasi masalah menstruasinya, tahu kamu?”

–Han Hye-kyung, 39 tahun.

Koo Sung-ae di rumahnya di Yeoju. Koo mengidap lupus. Ia sempat bekerja di pabrik Samsung selama lima tahun.

“Jika saya pikir-pikir sekarang, sungguh mengerikan bahwa dulu saya bekerja di bagian photo etching. Dulu saya memanjat di atas mesin-mesin kimia dan melakukan berbagai hal.

“Saya mulai benar-benar sakit parah pada 2000, setelah menikah dan hamil. Saya tiba-tiba didiagnosa lupus. Anak saya menderita tumor otak ketika berusia satu tahun, tapi ternyata tumor itu jinak, dan dia sekarang sudah besar. Dia sekarang duduk di bangku SMA.

“Saya terus-terusan jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit. Pada Maret 2014, saya harus dipasangi mesin dialisis untuk waktu yang cukup lama. Kami khawatir jika saya harus menjalani transplantasi ginjal, sistem imun saya akan gagal dan penyakit saya akan berubah menjadi kanker. Sudah tiga tahun sejak saya memilih untuk melakukan transplantasi.

“Suami saya dulu laki-laki yang sehat, sebelum ginjalnya diberikan kepada saya. Saya merasa sedih ketika melihatnya kelelahan. Dia anak termuda di keluarganya, dan saya merasa bersalah kepada keluarganya, merasa bersalah kepada keluarga saya.”

–Koo Sung-ae, 41 tahun.

Sumber: Laporan investigasi Cam Simpson, bersama Ben Elgin, Wenxin Fan, Heesu Lee, dan Kanoko Matsuyama. Dimuat dalam Bloomberg Businessweek, 15 Juni 2017. Diterjemahkan untuk kepentingan pendidikan oleh Astika Andriani dan Rizal Assalam.

Penerjemah: Astika Andriani dan Rizal Assalam

Editor: Dachlan Bekti

Bagikan