a
HomeJam IstirahatPerjalanan Seorang Nurjanita, Buruh Migran Kelapa Sawit di Sabah

Perjalanan Seorang Nurjanita, Buruh Migran Kelapa Sawit di Sabah

buruh kelapa sawit

Perjalanan Seorang Nurjanita, Buruh Migran Kelapa Sawit di Sabah

Trimurti.id – Pengalaman pribadi merupakan hal yang menarik untuk diceritakan pada khalayak ramai. Begitu pula dengan seorang perempuan bernama Nurjanita. Dia mengisahkan pengalaman pribadinya dalam buku Merentas Jalan Anak Negeri. Buku ini dibagi dalam 23 bab yang mengisahkan kehidupannya semasa kecil di tanah Indonesia, hingga akhirnya memutuskan merantau ke Sabah, Malaysia, untuk menyambung hidup.

Dia mengawali hidupnya di Sulawesi Selatan bersama keluarganya. Ayahnya menggarap ladang dan ibunya mengurus segala urusan rumah tangga. Jarak yang cukup jauh dari keramaian kota membuatnya sulit untuk menemukan pembeli. Tawaran pekerjaan menarik dari kawan ayahnya, membuat mereka sekeluarga pindah ke Sulawesi Tenggara. Ketika keadaan ekonomi kian memburuk, abangnya terpaksa untuk berhenti sekolah dan bekerja di tambang batu bara demi mempertahankan Nurjanita tetap bersekolah. Nurjanita berhasil menyelesaikan pendidikan hingga tingkat menengah. Kemudian, dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Sabah demi melanjutkan hidupnya.

Nurjanita merupakan seorang perempuan yang senang bekerja di ladang dibandingkan membantu ibu dengan pekerjaan rumahnya. Saat kecil dia memutuskan untuk menjadi perempuan yang tidak neko-neko (saya anggap di sini sebagai maskulin). Hal itu dia anggap dapat menghemat pengeluaran melihat keadaan ekonomi keluarganya yang kian memburuk, meskipun terkadang ada sedikit keinginan untuk menjadi feminin. Baginya, menjadi seorang perempuan tidaklah sederhana, terlalu banyak kebutuhan, seperti yang dia lihat pada kawannya yang lain.

Pendidikan menjadi salah satu perhatian utamanya. Keadaan ekonomi yang terpuruk tidak menjadi penghalang baginya untuk terus melanjutkan sekolah hingga tingkat menengah. Nilai yang menurun tidak membuatnya patah semangat. Absen beberapa hari demi menjaga ibunya yang sedang mengandung tidak membuatnya lesu dalam mengejar ketertinggalan pelajaran di kelas. Jarak sekolah yang jauh tetap dia tempur meskipun harus menumpang di rumah bibinya, dengan tambahan pekerjaan rumah yang tiada habisnya.

Meskipun begitu, terkadang usahanya tidak dihargai karena tuntutan pendidikan dari pamannya yang cukup berat dengan kondisinya. Dia berharap dengan semangatnya akan pendidikan kelak dapat menjadikan hidupnya lebih baik. Pada akhirnya, dia memutuskan ikut merantau ke Sabah bersama salah satu sanak keluarganya untuk mencari abangnya dan menyambung hidup.

Buku Merentas Jalan Anak Negeri  menggarisbawahi perjuangan Nurjanita terhadap kepeduliannya pada pendidikan. Dia risau dengan sekolah kebangsaan di Sabah yang tidak mau menerima anak-anak Indonesia untuk ikut belajar di sana. Sedangkan sekolah yang bisa menampungnya belum ada. Baginya, semua orang berhak mendapatkan kesempatan untuk sekolah.

Safari Ramadhan (kampanye presiden) yang diadakan di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) menjadi kesempatan besar untuk mewujudkan sekolah tersebut. Acara itu dia manfaatkan secara maksimal dengan mengutarakan kerisauan yang dia alami. Salah satu pejabat bernama Pak Abas bersedia memfasilitasi hingga akhirnya terbentuk sekolah untuk anak-anak Indonesia di Sabah. Proses yang cukup panjang tidak menjadi penghalang karena dilakukan bersama tiga kawannya yang juga peduli. Proses pelatihan menjadi awal bagi dia dan tiga kawannya dalam memperkaya pengalaman sekaligus jaringan yang lebih luas. Hingga tiba waktu dirinya untuk mengajar, senang bukan main dibuatnya.

Beragam bahasa dituturkan dalam buku ini. Bahasa Melayu yang mendominasi penuturannya. Bahasa daerah Sulawesi tak lupa dia cantumkan dalam percakapan semasa kecilnya. Gaya bahasa yang santai menambah imajinasi visual saya setiap membacanya. Seribu sayang, tak ada terjemahan untuk bahasa daerah yang akan lebih memudahkan. Tetapi secara keseluruhan, inti cerita pada setiap babnya dapat dipahami. Buku ini menambah wawasan saya pula dari segi bahasa. Tak hanya dari segi bahasa, buku ini pula menambah gambaran kondisi kehidupan dan lingkungan baik di Sulawesi atau pun menjadi perantau di Sabah.

 

Penulis: Chaalimah

Editor: Dachlan Bekti

Bagikan