a
HomeJam IstirahatBuruh industri perikanan: dibikin bongkok seperti udang

Buruh industri perikanan: dibikin bongkok seperti udang

Buruh industri perikanan: dibikin bongkok seperti udang

Renal Rinoza, penulis.

Aliansi Pangan Laut Berkelanjutan Indonesia baru saja meluncurkan Introduction of Humanity (2018), sebuah kumpulan esai foto. Kumpulan foto berwarna, beberapa foto bahkan berwarna cerah, tetap tak menyembunyikan muramnya kisah-kisah buruh industri perikanan, khususnya pada industri pengolahan udang. Tanpa basa-basi esai foto segera mengantarkan kita pada problem kemanusiaan buruh pengupasan udang, yang umumnya adalah perempuan.

Di dalam ruang kesehariannya, di dalam pabrik dan luar pabrik, mereka kerap disergap kondisi kerja buruk.Upah yang rendah dan tidak adil, jam kerja panjang, diskriminasi terhadap perempuan—dari tidak adanya cuti haid, hamil, dan melahirkan serta larangan bagi perempuan hamil untuk bekerja—hingga manajemen K3 yang belum sepenuhnya melindungi buruh. Semuanya adalah  persoalan yang kompleks dan sistemik, yang menggelayuti seluruh rantai pasokan pangan laut. Esai ini lebih menyoroti persoalan di seluruh rantai-nilai industri pengolahan udang.

Celakanya, apa yang dialami para buruh ini seluruhnya berbanding terbalik dengan angka permintaan ekspor udang Indonesia yang fantastis. Dan, tentu saja, berlipatnya keuntungan yang didapat oleh pengusaha dan aktor non-pekerja lainnya.

Bagaimana tidak, Indonesia adalah negara yang masuk ke dalam tiga besar pengekspor makanan laut (udang, ikan dan aneka produk lainnya) ke pasar Eropa, Amerika, Jepang dan negara-negara maju lainnya. Namun kondisi kerja buruhnya penuh bau amis ketidakadilan dan pengabaian hak-hak pekerjanya. Di tengah tingginya ekspor udang Indonesia, nasib buruh pengupas udang demikian memprihatinkan. Udang yang mereka lepaskan ke tangan makelar di tempat pelelangan, dihargai sangat murah.

Ada pula semacam larangan untuk tinggal di luar area pabrik. Mereka diasramakan, dengan kondisi tempat tinggal serba terbatas. Sebagian yang tinggal di luar area pabrik, harus membayar uang kamar kos, untuk kamar seluas (atau sesempit?) 3X4 meter. Salah satu dari mereka adalah Bunga, yang tinggal di kamar kos seukuran itu bersama satu anak dan suaminya, office boy  di sebuah perusahaan. Sebagai ibu dari satu anak, Bunga prihatin dengan peraturan perusahaan yang melarang hamil buruhnya. Pengalaman buruk pernah menimpa Dewi, buruh yang terpaksa mengundurkan diri ketika usia kehamilannya memasuki delapan bulan. Karena perusahaan tak bersedia memberikan cuti melahirkan, Dewi mau tidak mau terpaksa berhenti bekerja.

Yang juga menggelisahkan adalah beban yang harus ditanggung buruh, yang bekerja dalam hubungan kerja yang penuh ketidakpastian. Koleksi foto ini menampilkan seorang buruh yang sudah bekerja selama enam tahun tapi tetap saja hanya mendapatkan kontrak kerja jangka pendek, umumnya kontrak jangka dua bulan. Alhasil, dengan kontrak kerja jangka pendek tersebut, pendapatan sering tak menentu. Maka, ketika kantong menipis, terpaksa dia berhutang untuk biaya sekolah anaknya, sekaligus untuk menyambung hidup anak dan ibunya, di rumah kontrakan yang sempit.

Fasilitas yang tersedia di dalam pabrik, sangat jauh dari harapan. Mulai dari asrama pekerja, fasilitas kesehatan, dan akses untuk air bersih serta air minum. Semuanya dikendalikan dan dibatasi oleh perusahaan. Entah mengapa, ketika buruh kehausan, mereka diharuskan minta ijin terlebih dahulu untuk keluar dari tempat kerja dan minum di fasilitas yang disediakan perusahaan. Belum lagi, air yang disediakan berkualitas rendah. Banyak buruh lebih rela menahan haus, karena khawatir kehilangan waktu sehingga target produksi tak tercapai. Bukan hanya khawatir kehilangan waktu, bahkan dipecat lantaran tak mencapai target produksi: mengupas 950 udang per satu jam.

Ancaman lain mengintai: pabrik bisa sewaktu-waktu pindah ke daerah lain. Jika malapetaka itu datang, buruh kehilangan pekerjaan. Itulah kejadian buruk yang menimpa beberapa buruh yang sudah bekerja selama delapan tahun. Kondisi kerja buruh industri pengolahan udang sungguh bertolak-belakang dengan kemewahan sajian udang, yang dihidangkan di meja-meja makan, dengan  table manners­-nya, jauh di negara maju sana.

 

Judul: Introduction of Humanity

Halaman: 26 halaman

Cetakan: Pertama, 2018

Penyunting: Aliansi Pangan Laut Berkelanjutan Indonesia

Foto isi: Dokumentasi Aliansi Pangan Laut Berkelanjutan Indonesia dan Adrian Mulya

Desain isi dan sampul: Zulfikar Arief

Penerbit: Aliansi Pangan Laut Berkelanjutan Indonesia

 

Bagikan
Tags