a
HomeEditorialTenaga Kesehatan: Buruh Yang Berisiko Terpapar Virus Corona.

Tenaga Kesehatan: Buruh Yang Berisiko Terpapar Virus Corona.

Tenaga Kesehatan: Buruh Yang Berisiko Terpapar Virus Corona.

Di tengah penyebaran virus corona, sebuah ulasan muncul New York Times, pada 15 Maret 2020. Penulisnya, Lazaro Gamio, membeberkan tentang orang-orang yang rawan terpapar virus corona, karena jenis pekerjaannya yang mengharuskan mereka untuk bertemu secara fisik dengan orang lain.

Pekerjaan merawat orang sakit seperti dokter gigi, paramedis, dan perawat; membuat pekerjanya banyak terpapar pada berbagai jenis penyakit dan infeksi. Risiko yang hampir sama besarnya juga dihadapi oleh awak penerbangan, pengantar barang, dan pengangkut sampah.

Faktor lain yang memperbesar risiko adalah jarak antar orang. Beberapa jenis pekerjaan yang mensyaratkan buruhnya bekerja berdekatan jarak dengan orang lain. Contohnya lagi-lagi adalah tenaga kesehatan, disusul pengasuh anak, perawat orang lanjut usia, polisi, pilot, dan kasir.

Jika dua faktor di atas, yakni paparan penyakit dan kedekatan jarak- digabungkan, petugas kesehatan menanggung risiko paling besar. Mereka setiap hari terpapar pada berbagai jenis penyakit dan infeksi. Selain itu, sehari-hari mereka lazimnya bekerja berdekatan dengan sesama petugas  atau dengan pasien. Tidak mengherankan, dalam minggu-minggu belakangan ini banyak petugas kesehatan di Amerika Serikat tengah menjalani karantina karena terpapar virus.

Jenis pekerjaan berikutnya yang rentan tertular adalah perawat pribadi dan perawat orang lanjut usia. Sementara, orang lanjut usia adalah kelompok yang paling rentan sakit. Di sebuah panti perawatan di Washington, diketahui 25 orang meninggal dunia karena virus corona, dan 70 orang lainnya jatuh sakit.

Risiko tak kalah seriusnya dihadapi oleh orang-orang yang pekerjaannya bersangkut-paut dengan pertolongan pertama pada kecelakaan. Petugas yang datang untuk memberi pertolongan ke panti perawatan di atas, sekarang juga sedang dikarantina. Tidak hanya di Amerika Serikat, petugas paramedis di manapun saat ini dihimbau untuk ekstra berhati-hati ketika menolong pasien yang diduga tertular virus corona.

Profesi rawan berikutnya adalah guru, yang sehari-hari bertemu dengan banyak murid. Beralasan jika di Amerika Serikat saat ini sekolah-sekolah diliburkan sementara. Risiko yang kurang lebih sama dihadapi buruh di sektor jasa seperti kasir dan buruh restoran siap saji. Banyak buruh Walmart, Starbucks and Uber dilaporkan sakit.

Repotnya lagi, sebagian besar dari mereka yang menghadapi risiko serius ini tingkat upahnya lebih rendah dari rata-rata upah nasional. Banyak di antaranya, jika mengambil cuti sakit, upahnya dipotong.

Karena tidak mau kehilangan pendapatan, sekalipun kesehatannya terganggu.

Seluruh penghitungan risiko di atas tersebut diolah dari O*Net, sebuah database yang dioperasikan oleh Departemen Perburuhan Amerika Serikat. Database ini mencantumkan berbagai aspek fisik pada berbagai jenis pekerjaan, misalnya mencatat jenis pekerjaan apa saja yang mengharuskan buruhnya untuk menerima panggilan telepon. Atau, pekerjaan apa sajakah yang menuntut buruhnya untuk banyak membungkukkan badan (skor tertinggi adalah pekerja rumah tangga).

Seiring merebaknya virus corona, saat ini banyak perusahaan menghentikan operasi kantor dan gudang atau merumahkkan buruh. Sebagian perusahaan memang mencantumkan ketentuan tentang cuti darurat di peraturan perusahaan. Artinya, sekalipun diliburkan, buruh tetap menerima upah penuh.  Namun demikian, perusahaan yang demikian jumlahnya tidak banyak.

Sabtu lalu, 14 Maret 2020, DPR Amerika Serikat menyetujui usul untuk mencairkan paket bantuan khusus bagi buruh yang terdampak virus corona (mirip bantuan langsung tunai di Indonesia), yang mencakup pembayaran cuti sakit. Sayangnya, bantuan tersebut hanya berlaku untuk perusahaan yang jumlah buruhnya di bawah 500 orang. Artinya, ada demikian banyak orang yang tidak tersentuh program bantuan ini.

Padahal, terutama pada buruh yang upahnya kecil, dirumahkan artinya sama saja dengan kehilangan pendapatan (lihat tabel di bawah). Hal ini sudah terjadi pada sebuah perusahaan catering kecil di Seattle, yang terpaksa merumahkan hampir seluruh buruhnya, karena pesanan dibatalkan oleh salah satu pelanggannya, sebuah sebuah perusahaan teknologi tinggi.

Tabel:

Persentase buruh yang cutinya tetap dibayar.

Jenis Pekerjaan Cuti Sakit Cuti keperluan pribadi
Semua jenis pekerjaan 74% 45%
Perawat 92% 68%
Guru 86% 62%
Buruh sektor jasa 56% 28%
Pramuniaga 65% 40%
Buruh penuh-waktu 85% 54%
Buruh paruh-waktu 40% 18%
25 persen buruh berpendapatan terbesar 92% 63%
25 persen buruh berpendapatan terkecil 47% 24%

Sumber: Biro Statistik Perburuhan AS.

Kemudian, semakin banyak perusahaan yang meminta buruhnya bekerja dari rumah (WFH, Work from Home). Namun, pengaturan rupanya tidak dapat diterapkan pada semua jenis pekerjaan. Umumnya hanya dapat berlaku pada buruh buruh kantoran. Mustahil diterapkan banyak jenis pekerjaan lainnya, khususnya pada buruh-buruh sektor jasa, atau buruh-buruh yang tingkat pendapatannya paling rendah. Tabel di bawah jelas menunjukkan, yang mungkin untuk bekerja dari rumah rata-rata adalah buruh yang upahnya lebih tinggi.

Tabel:

Persentase buruh-buruh yang dimungkinkan untuk bekerja dari rumah.

Pendapatan Percent
25% pendapatan terbawah 9.2%
25-50 20.1%
50-75 37.3%
25% pendapatan tertinggi 61.5%

Sumber: Biro Statistik Perburuhan AS.

**

Di Indonesia, kajian awal semacam di atas masih sukar diperoleh karena data lengkap tidak tersedia. Jangankan menghitung risiko penularan pada berbagai jenis pekerjaan dan mata pencaharian, dalam dua minggu belakangan ini pemerintah Indonesia masih menghadapi kesulitan besar menghitung penyebaran virus corona pada keseluruhan penduduk di seluruh propinsi.

Kalaupun data menyeluruh tidak tersedia, beberapa petunjuk tentang risiko kesehatan ditanggung para tenaga kesehatan sudah muncul dalam pemberitaan media. Awal Maret lalu, Walikota Depok Mohammad Idris mengatakan ada perawat yang diduga terpapar virus corona (Republika, 2-Maret-2020). Pemeriksaan kesehatan sudah dilakukan pada perawat-perawat tersebut. Sementara dari Kendari dilaporkan, karena sadar akan risiko kesehatan yang mereka hadapi, para tenaga kesehatan yang merawat pasien corona menuntut pihak manajemen rumah sakit untuk segera menyediakan alat-alat pelindung diri yang memenuhi syarat (Bisnis.com, 21-Maret-2020).

Hingga tulisan ini diturunkan, pengurus pusat Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengumumkan, tiga dokter meninggal dunia akibat terserang virus corona. Tiga dokter yang meninggal adalah: dokter spesialis saraf Hadio Ali Khazatsin, spesialis bedah Djoko Judojoko, dan spesialis telinga hidung tenggorokan (THT) Adi Mirsa Putra. Mereka diduga terinfeksi virus corona dari pasien yang dirawatnya. Ketiganya sempat menjalani perawatan, namun tak tertolong (Republika, 22-Maret-2020).

**

Tenaga kesehatan di banyak belahan dunia saat ini sedang mempertaruhkan keselamatannya dan terus bekerja menanggulangi krisis. Semua mereka -dokter, perawat, paramedis, supir ambulans, tenaga administrasi, hingga cleaning service dan satpam- adalah kaum buruh yang selayaknya dihargai.

Dari Paris –yang sudah seminggu memberlakukan lockdown, Lia buruh migran asal Indonesia mengabarkan, pemerintah Perancis memutuskan untuk memberikan imbalan 1000 Euro (sekitar Rp. 17 Juta, menurut kurs hari ini) bagi semua tenaga di garis depan penanggulangan krisis, termasuk perawat medis, supir ambulan, dan penjaga toko barang kebutuhan sehari-hari.

Lia menambahkan, “Tiap jam delapan malam, kami ke balkon kasih tepuk tangan dan suara dukungan buat menyemangati tenaga perawat dan dokter di front depan.”

***

Penulis: Yanuar

Bagikan